Thursday, January 8, 2015

Sex in the kost belum menjadi masalah sosial

Sumber: http://djatinangor.com/sex-in-the-kost-belum-menjadi-masalah-sosial/

Jatinangor sebagai kawasan pendidikan merupakan lahan subur untuk mendirikan tempat kos. Namun, rata-rata pemilik kosan di Jatinangor bukanlah penduduk setempat. Hanya beberapa penduduk Jatinangor yang memiliki tempat kos, itu pun tidak sebanyak milik orang dari luar Jatinangor. Kebanyakan penduduk setempat hanya menjadi penjaga tempat-tempat kos tersebut.
Berdasarkan jenis kelamin penyewanya, tempat kos di Jatinangor terdiri atas beberapa macam. Ada yang dikhususkan untuk putra, putri, dan unisex. Pembagian di atas barangkali dimaksudkan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya pergaulan bebas di kalangan mahasiswa. Kenyataannya, pembagian seperti itu seakan tidak berarti apa-apa. Pergaulan bebas, khususnya sex in the kost, tidak benar-benar mampu dicegah.
Herman (49), seorang penjaga kos di Ciseke, mengeluhkan perilaku mahasiswi yang menghuni tempat kos yang dijaganya. Ada beberapa mahasiswi yang sering membawa teman lawan jenis ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Meskipun baru setahun bekerja di tempat kos ini, dia selalu memperhatikan perilaku mahasiswi di tempat kos tersebut.
Herman tidak langsung menegur anak kosnya yang membawa masuk teman lawan jenis ke kamar. Sekali atau dua kali, Herman masih memberi toleransi. Tetapi ketika anak kos itu tidak juga menyadari kesalahannya, barulah Herman menegur dan memperingatkan anak tersebut dan teman lawan jenisnya.
Berbeda dengan Herman, Richard Tambunan (42), penjaga sekaligus pemilik tempat kos unisex di Ciseke, mengaku belum pernah mendapat keluhan berarti mengenai perilaku mahasiswa di tempat kos miliknya. Barangkali karena tempat kos yang penghuninya kaum lelaki dan perempuan ini baru berdiri sekitar satu tahun.
Om belum pernah menjumpai indikasi berarti yang negatif,” ungkap Richard yang berasal dari Manado ini.
Ia juga merasa bertanggung jawab atas keberadaan mahasiswa di tempat kosnya, karena para orang tua mahasiswa tersebut memercayakan dan menitipkan anaknya padanya.
Fenomena sex in the kost, menurut pria bertubuh tambun itu, disebabkan kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pengurus tempat kos dan faktor penghuni itu sendiri. Di tempat kosnya, Richard melakukan kontrol yang ketat sehingga kemungkinan terjadinya sex in the kost sangat kecil.
Selain itu, Richard selalu memosisikan diri sebagai teman dekat yang selalu mengingatkan dan memberi arahan kepada anak kosnya. Memang pernah ada juga anak kosnya yang membawa masuk teman lawan jenis ke dalam kamar dan menutup pintu, tapi Richard langsung mengambil tindakan dengan mengetuk pintu kamar, lalu menegur serta menasehati si penghuni. Dengan begitu, penghuni itu menjadi segan dan tidak mengulangi perbuatannya.
Selain pendekatan secara personal, aturan yang ketat juga diberlakukan oleh para pengelola kosan. Ela (40), pengurus tempat kos khusus putri di Sayang, menyebutkan bahwa peraturan yang diberlakukan cukup ketat. Jam malam ditetapkan batasnya hingga pukul sepuluh. Teman lawan jenis juga dilarang masuk kamar.
Gerutuan Tanpa Guna
Meskipun kerap dianggap sebagai penyakit, fenomena sex in the kost hanya menjadi buah bibir tanpa tindak lanjut dari masyarakat sekitar. Seperti yang dikatakan Herman, penjaga tempat kos khusus putri di Ciseke.
Ada lah rekan-rekan saya, satu dua orang, di lingkungan sekitar sini yang berbicara dengan saya, mengapa kamar-kamar di bawah kok bebas sekali,” tukas Herman.
Beberapa penjaga tempat kos lain di Sayang, Hegarmanah, Cikuda, dan Ciseke yang pernah diwawancara kru dJatinangor, bahkan mengaku belum pernah menerima keluhan masyarakat sekitar perihal perilaku sex in the kost. Para pengurus tempat kos yang diwawancarai menyatakan, masalah perilaku negatif mahasiswa seperti sex in the kost masih bisa ditangani oleh pihak pengurus tempat kos tanpa harus melibatkan masyarakat sekitar.
Sosiolog Universitas Padjajaran Drs. Budi Rajab M.Si, menyatakan hal yang sama mengenai masyarakat yang tidak bereaksi terhadap fenomena sex in the kost ini.
Toh kalau ada problem masyarakat bereaksi juga. Tapi sampai sekarang ini kannggak juga (bereaksi-red). Lagipula dalam melakukan hubungan seks ada aturan juga, tidak akan orang sembarangan melakukan dengan terbuka,” tuturnya.
Budi Rajab memandang sexual relation tidak terkait langsung dengan masalah sosial. Ia lebih memandang seks sebagai persoalan human interest, kepentingan-kepentingan atau kebutuhan-kebutuhan manusia untuk melakukan itu.
Ia memandang seks dapat menjadi masalah ketika hal itu menimbulkan persoalan-persoalan yang memang ada dampaknya. Dampaknya lebih bersifat individual, seperti penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah, atau mengganggu kegiatan sekolah.
Berbeda dengan masyarakat sekitar yang tidak melakukan tindakan langsung terhadap perilaku sex in the kost, Anggota Pokja Unsur Masyarakat Forum Jatinangor (Forja) Dudi Supardi, justru pernah mengusir dan menikahkan pelaku sex in the kost. Menurut Dudi, rata-rata pelaku sex in the kost adalah mahasiswa dan karyawan pabrik. Dudi pernah mengusir dan menikahkan dua orang mahasiswa pelaku sex in the kost di Cibeusi.
Dudi menekankan perlunya koordinasi antara aparat dengan masyarakat. Hal ini berfungsi untuk mengawasi tingkah laku mahasiswa kosan. Koordinasi juga menutupi kurangnya wewenang penjaga kosan dalam mengontrol prilaku seks mahasiswa.
Tiadanya Laporan dari masyarakat mengenai keresahan mereka terhadap prilaku Sex in the Kost pun terlontar dari mulut Kepala Desa Cibeusi Dedi Junaedi dan Sekretaris Desa Cikeruh Yoyo Sutaryo (58).
Yoyo mengaku tidak pernah mendapat laporan atau keluhan dari masyarakat mengenai perilaku mahasiswa yang melakukan hubungan seks luar nikah di tempat kos. Karena tidak adanya laporan maka aparat desa tidak dapat mengadakan inspeksi atau penggrebekan.
Senada dengan Sutaryo, Dedi Junaedi mengungkapkan bahwa sebelum melakukan penggrebekan harus ada laporan dari masyarakat. Sementara itu, tidak pernah ada laporan dari masyarakat perihal sex in the kost ini.
Tidak Ada Tindak Lanjut
Meskipun masyarakat menentang sex in the kost, namun tidak ada reaksi dan tindak lanjut dari masyarakat sekitar. Sikap tidak suka tersebut hanya menjadi berita yang tersebar dari mulut ke mulut di masyarakat.
Mereka (masyarakat sekitar-red) menolak, tapi apakah mereka beraksi dengan penolakan-penolakannya? Itu kan penolakan hanya ngedumel,” ujar Budi Radjab mengomentari sikap masyarakat.
Fenomena sex in the kost tidak akan menjadi masalah sosial sampai masyarakat sendiri yang bereaksi dan memberi tindak lanjut atas fenomena ini. Gerutuan atau keluhan masyarakat tanpa tindak lanjut menunjukkan bahwa hal ini tidak dianggap sebagai masalah sosial yang serius. Lagipula, dalam hal ini terjadi simbiosis mutualisme atau hubungan timbal balik yang sifatnya menguntungkan antara masyarakat sekitar, khususnya pemilik tempat kos dengan mahasiswa. Pemilik kos butuh mahasiswa yang menyewa tempat kosnya, sedangkan mahasiswa butuh tempat kos selama menjalani perkuliahan di Jatinangor.
Sex in the kost akan tetap ada hingga masyarakat melakukan hal yang lebih nyata daripada sekadar menggerutu dan bergosip. Ia juga akan terus berkembang jika selalu saja ditutup-tutupi demi sebuah citra positif kawasan pendidikan.
Pemerintah sendiri mengelak, bahwa sex in the kost ini tidak ada, hanya isu-isu. Karena apa? Nilai wilayahnya akan jelek dengan adanya hal itu sehingga ditutupi, padahal ada,” tegas Dudi Supardi.

No comments:

Post a Comment