Thursday, January 8, 2015

Membongkar Seks Bebas di Kampus Jatinangor

Sumber: http://news.okezone.com/read/2007/06/18/1/27623/membongkar-seks-bebas-di-kampus-jatinangor

Banyak cerita sudah beredar mengenaikehidupan praja IPDN. Nyanyian Inu Kencana jelas menjadi cerita menarik. Tidakterkecuali mengenai tradisi seks bebas di kampus itu. Benarkah?
Berikut ini adalah bagian kesepuluhtulisan mengenai Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang disarikan daribuku Inu Kencana: IPDN Undercover!
Untuk membongkar kasus seks di STPDNharus dimulai dari pejabat tertinggi yang ingin paling bertanggung jawabmemusnahkannya. Namun, mereka yang ingin memusnahkan haruslah orang yangmenganggap bahwa seks sebelum nikah itu keliru. Ini hanya diyakini olehkelompok beragama, karena kitab suci melanggarnya.
Nah, bagaimana jika pejabatseharusnya memusnahkan tradisi seks bebas di STPDN justru menjadi praktisi?Para pejabat STPDN seperti Drs H UZ, Drs MP, MBA, Drs I NS Msi, Dra ET, Dra Ww,Dra Gt, Dra Ry, Dra Rn, MPD, Drs TS, MPD, IB, SH. MPd, Drs Yn Msi, AN, SH, danlain-lain terkait dalam tradisi ini. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untukmenangani kasus seks.
Berapa banyak kasus perzinahan prajadengan ibu rumah tangga di sekitar kampus STPDN. Polsek Cikeruh mencatatlaporan-laporan para suami yang mengaku istrinya berselingkuh dengan penghuniSTPDN. Sebut saja Yy, kemudian Ag, dan lain-lain yang semula melapor ke polisi,namun kemudian menarik laporannya karena berhadapan dengan tembok STPDN.
Praja bernama NH (sekarang sudahlulus asal Sulawesi Selatan) atau VBH merupakan contoh praja STPDN yangbermasalah dalam kasus ini. VBH tercatat membawa kabur istri orang lain ketikasedang melakukan bhakti karya praja di Pandeglang.
Bagaimana akan ada sanksi yang tegasjika setiap kasus seperti ini terjadi selalu pengasuh yang disuruh melakukanBAP adalah dosen yang juga mempunyai masalah rumah tangga? Contohnya IB, SH,MPd yang pernah kedapatan membawa WTS. Hal yang terjadi tentu saja adalahkompromi. Jangan heran jika praja bermasalah tersebut lulus, sebuah motor barumelayang ke rumah pengasuh yang baik hati ini.
Kini, karena uang setoran cukupmemberikan arti bagi pejabat STPDN. Maka, strategi pengangkatan jabatan di jajarandi bawahnya harus mereka yang "berprestasi" di bidang kejahatan.
Drs YN, Msi, yang enam kali kawincerai melakukan penganiayaan terhadap seluruh istrinya dengan mencambuk dengankopel. YN kemudian malah dijadikan panitia penerimaan praja baru. Sedangkan AN,SH. Yang membawa kabur isteri Yy juga dijadikan panitia penerimaan praja baru. Olehkarena itu, setiap penerimaan praja baru tidak menutup kemungkinan adalah pestakemenangan bagi para dosen yang menikmatinya.
Sebenarnya hal ini sudah dilaporkankepada Presiden dan Menteri Dalam Negeri. Namun, yang terjadi, hanya perintahkepada Irjen Depdagri untuk mengusut kasus ini. Tentu saja yang terjadikemudian adalah Irjen datang, dan ketika pulang dari pemeriksaan di kampusSTPDN Jatinangor mendapat sangu segala sesuatunya. Kasus yang seharusnya diusutpun hilang ditelan ombak.
Memang sanksi dijatuhkan, tetapihanya pengurangan jumlah mengajar. Itu hanya selama enam bulan. Satu semesterberikutnya, dosen yang bersangkutan memperoleh kelas yang lebih banyak kembali.(mbs)

No comments:

Post a Comment