Thursday, January 8, 2015

Kondom Laris Manis di Jatinangor

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2010/08/06/kondom-laris-manis-di-jatinangor-217814.html


Meningkatnya kesadaran menghindari HIV/AIDS atau meningkatnya praktik mesum?
Senin lalu, 2 Agustus 2010, saya naik bis dari Padalarang menuju Jakarta. Setelah menolak bis pertama yang memaksa saya naik di ‘bangku’ yang tidak layak, akhirnya saya rela menunggu sekita lima belas menit sebelum bis berikutnya datang. Saya pun naik dan berharap yang duduk di sebelah saya adalah perempuan. Risih rasanya dua jam berada di dalam bis jika di samping kita yang duduk adalah lawan jenis. Memang mereka tidak bertingkah aneh-aneh tapi saya selalu berdoa agar saya mendapat teman duduk perempuan. Rupanya doa saya hari itu tidak dikabulkan L Ketika saya naik, yang tersisa benar-benar tidak ada pilihan. Bangku yang kosong semuanya di sebelah kaum Adam. Setelah berfikir cepat, saya pun menentukan pilihan. Saya duduk di sebelah laki-laki yang nampaknya masih muda. Mungkin usianya baru 17 tahun. Ia membawa gitar yang terbungkus sarung kulit hitam.
Alhamdulillah. Sepanjang perjalanan, dia tidak macam-macam. Soalnya saya sudah sering mendengar cerita-cerita dan membaca berita seputar pelecehan yang terjadi di angkutan umum. Terima kasih, De.
Sekitar sepuluh menit berlalu, bis belum juga berangkat. Saya mengeluarkan hp. Saya mengirim pesan ke beberapa orang yang sangat tercinta bahwa saya sudah di bis dan on the way back to Jakarta. Konsentrasi saya pecah ketika mendengar teriakan tukang Koran. “Koran, koran, Pikiran Rakyat, Tribune, Tribune, Tribune cuma serebu!”
Saya mendongak. Terlihat jelas dia menjual koran Tribune dan membentangkannya di depan saya hingga dengan mudah saya melihat dengan jelas headlinenya, “Kondom laris manis di Jatinangor.”
Pikiranku bertanya otomatis. Jatinagor? Bukannya itu area kampus? Dengan segera aku mengasongkan duit seribuan dan membeli Tribune Jabar. Aku langsung membaca headline tadi. Isinya sungguh memprihatinkan.
Penjualan kondom paling banyak ada di kawasan Jatinangor. Dikatakan bahwa penjualan kondom berada di bawah penjualan rokok. Dijelaskan pula kondom sangat laris ketika malam minggu tiba. Dari pengakuan seorang mahasiswi yang kuliah di Jatinangor, disebutkan bahwa kondom bekas memang banyak ditemukan di sekitar kos-kosan yang ada di sekitar daerah tersebut. Bahkan terlihat berserakan di gang-gang sempit. Bukan di tempah sampah. Ini bukan pemandangan baru dan sudah berlangsung cukup lama. Selain di gang-gang sempit, barang yang bisa diperoleh dengan harga Rp 10.500 hingga Rp 19.500 ini dibuang juga ke saluran pembuangan WC. Petugas yang melakukan penyedotan WC sempat kaget karena ditemukan kondom ketika sedang bertugas.
Mahasiswi ini sendiri mengaku tidak kaget mengingat banyak kos yang tidak memberlakukan aturan yang ketat. Banyak kosan yang campur. Bisa dihuni laki-laki atau perempuan. Orang pun bisa menginap semaunya di kosan cewek atau cowok. Beberapa waktu lalu juga polisi sempat melakukan penggerebekan di sebuah wisma yang sering digunakan untuk mahasiswa melakukan praktik mesum.
Seorang mahasiswa yang bernama Gunawan juga mengatakan jika dirinya kerap menemukan kondom bekas di kamar mandi kosnya. Hal ini terjadi ketika ia sedang membersihkan bak mandi di kosnya.
Selain di Jatinangor, kondom juga laris di Jl. Supratman, Bandung. Apalagi jika Malam Minggu, benda ini dibeli secara rombongan. Biasanya yang membeli adalah para remaja pria pada malam hari. Selain itu, sebagian besar pembelian kondom dibarengi rokok dan minuman mineral.
Supervisor Marketing Damendra Kumar Tyagi (DKT), Yotam Adua, mengatakan, penjualan kondom, khususnya di Kota Bandung, mengalami peningkatan. Peningkatan penjualan kondom itu terjadi karena masyarakat semakin sadar untuk menghindari penularan virus HIV/AIDS. Kesadaran ini mempengaruhi penjualan kondom. Ia mengakui jika banyaknya penjualan kondom tentu dibarengi adanya kegiatan seks.
Menurut Henri, Sekertaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, pembelian alat kontrasepsi ini tergolong bebas. Siapapun dapat membelinya. Hal ini agak berbeda dengan rokok yang memiliki aturan bahwa mereka yang di bawah 18 tahun tidak boleh membeli. Kalau secara sales non food setiap tahun ada peningkatan satu persen, penjualan kondom memberi kontribusi peningkatan 7-8 persen tiap tahun. Merek yang paling laris adalah merek yang paling sering diiklankan di TV. Apalagi harganya terjangkau.
Mungkin memang benar yang dikatakan narasumber di atas bahwa peningkatan kesadaran penularan virus HIV membuat masyarakat membeli barang yang termasuk kategori obat-obatan ini. Namun di sisi lain, sudah barang tentu dibarengi kegiatan seks yang notabene dilakukan mereka yang belum menikah. Apalagi sudah jelas disebutkan bahwa penggunaan barang tersebut terjadi di wilayah kosan mahasiswa. Sudah dapat dipastikan sebagian besar dari mereka masih berstatus lajang atau bujang. Memprihatinkan. Para mahasiswa yang seharusnya memiliki wawasan intelektual ini ternyata dengan bebas melakukan praktik nonintelektual di kosannya.
Miris dan sedih tentunya mencermati kondisi di atas. Sepertinya perhatian dan pembinaan moral dari para orang tua, pendidik dan para ulama harus lebih ditingkatkan. Penanaman nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa yang semakin tergerus oleh keedanan zaman, adalah sebuah kewajiban melekat. Tidak selesai sampai disitu, nampaknya perlu ada aturan baru terhadap pembelian kondom sehingga tidak bisa dibeli dengan bebas oleh sembarang usia.

No comments:

Post a Comment