Thursday, January 8, 2015

Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum Cegah Perilaku Seks Bebas

Sumber: http://www.jatinangorku.com/kesehatan-reproduksi-masuk-kurikulum-cegah-perilaku-seks-bebas.html

Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum, Cegah Perilaku Seks Bebas
Jatinangorku.com – Mitra Citra Keluarga (MCR) Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat, mendesak agar kesehatan reproduksi masuk dalam kurikulum bagi siswa SMP, SMA dan sederajat. Hal ini diyakini akan meminimalisasi penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja.
“Para siswa tahu organ katak. Tetapi mereka tidak tahu organnya sendiri. Masa organ sendiri tidak tahu? Hal itu menjadi salah satu penyebab terjadinya penyimpangan perilaku seks,” ujar Koordinator Senior Mitra Citra Remaja, Dian M. Marviana di sela-sela diskusi memperingati International Youth Day (Hari Pemuda Internasional), Jumat (6/9).
Diungkapkan Dian, sebenarnya sejak 20 tahun lalu MCR sudah memperjuangkan agar pendidikan kesehatan repoduksi bisa masuk dalam kurikulum. Namun hingga saat ini belum terwujud karena masih banyak pihak yang menganggapnya tabu. “Padahal dengan pendidikan kesehatan reproduksi, setidaknya para siswa bisa memperoleh pengetahuan tentang risiko yang dihadapinya,” jelasnya.
Kendati masih belum bisa masuk kurikulum, Dian berharap, kesehatan reproduksi bisa masuk sebagai sisipan dalam mata pelajaran di sekolah. Sehingga para guru bisa menjelaskan pendidikan seks.
“Banyak kasus kehamilan tidak diinginkan akibat ketidaktahuan pelaku,” tuturnya.
Menurut Survei BKKBN tahun 2008, 57% remaja Kota Bandung usia 15-24 tahun telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Dari 54 responden remaja yang aktif secara seksual, usia pertama kali melakukan hubungan seksual paling dominan pada rentang usia 16-18 tahun sebesar 59%.
“Saat ini kita memang memiliki 6 sekolah binaan. Tetapi kami sangat berharap, ada kebijakan dari pemerintah yang bisa mengikat untuk dilaksanakan oleh sekolah. Oleh karenanya, kita berharap Wali Kota Bandung terpilih, Ridwan Kamil, juga mau memikirkan hal ini,” katanya.
Aborsi
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah PKBI Jabar, Dr. Chairul Amri mengungkapkan, banyak kasus remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan berakhir dengan aborsi tidak aman. Hal itu dilakukan karena mereka tidak memiliki pilihan untuk meneruskan kehamilannya. “Kita hanya mampu menstigma mereka tanpa menyediakan pilihan akses layanan yang komprehensif dan ramah remaja,” jelasnya.
Diakui Chairul, pendidikan seks memang tidak bisa mereduksi prostitusi anak atau remaja. Tetapi setidaknya mereka mampu menjaga dirinya dari dampak yang lebih buruk.

No comments:

Post a Comment