Thursday, January 8, 2015

Fakta Jatinangor

Sumber: http://detikhots.info/fakta-jatinangor/

Terletak di wilayah Kabupaten Sumedang, propinsi Jawa Barat, Jatinangor selama lebih dari sepuluh tahun terakhir dikenal sebagai kawasan pendidikan. Aktivitas mahasiswa di empat perguruan tinggi yang berada di Jatinangor menjadi bagian utama dinamika kehidupan di daerah ini.
Berbagai cerita mengenai mahasiswa yang sebagian besar berstatus anak kos menjadi kisah klasik tentang area Jatinangor. Namun, siapa sangka ada kisah lain yang lebih menarik dan menggelitik di kawasan padat mahasiswa ini.
Kisah itu berangkat dari adanya beberapa penduduk asli Jatinangor yang mencari nafkah dengan menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK) di kawasan ini. Tidak ada data pasti mengenai jumlah mereka. Meski jumlahnya terbilang kecil, tidak berarti keberadaan mereka dapat diabaikan begitu saja.
“Kalau dulu mah banyak. Sejak ada kampus mah sepi,” ujar seorang penduduk asal Jatinangor. Pria ini menambahkan, tempat yang masih banyak PSK-nya bukan di Jatinangor melainkan di sekitar Cibiru, Cileunyi, dan Tanjung Sari.
Doyat (62), pria yang bekerja di Kantor Kelurahan Jatiroke, Kecamatan Jatinangor, menuturkan antara tahun 1950-an sampai 1970-an memang ada beberapa penduduk perempuan Jatiroke yang menjadi PSK.
“Tapi beroperasinya tidak di Jatiroke melainkan ke luar. Jumlahnya juga cuma sedikit. Hanya beberapa orang saja,” tutur Doyat.
Kupu-kupu malam di desa itu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum nama kampung Ciromed di kecamatan Tanjung Sari dikenal sebagai lokalisasi PSK. Namun, ketika Ciromed mulai ramai dengan warung remang-remangnya, PSK di Jatiroke justru mulai berkurang bahkan menghilang.
“Sejak ada pengarahan dari pemerintah desa, para PSK pun diberi modal kecil-kecilan untuk memulai usaha. Alhamdulillah sekarang sudah berhenti,” lanjut pria yang sudah menjadi aparat desa sejak awal 1980 ini.
Penduduk Asli vs Pendatang
Para PSK yang beroperasi di Jatinangor berasal dari berbagai macam usia. Ada PSK yang berusia 20 tahunan, tapi ada pula yang berumur lebih dari 50 tahun. Mereka ada yang berstatus sebagai penduduk asli Jatinangor dan ada juga yang merupakan pendatang.
Ceu At, salah satu PSK yang tinggal di sebuah gang di belakang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Jatinangor, usianya sudah mencapai 55 tahun. “Profesi” ini dilakoninya sejak usia belia. Kala itu umurnya baru 15 tahun. Artinya, sudah empat dasawarsa ia tenggelam dalam dunia prostitusi.
Sementara itu, pendatang yang menjadi PSK di Jatinangor rata-rata berusia 20 tahunan hingga 40 tahun ke atas. Sebagian berdomisili di Jatinangor, namun ada pula yang tinggal di daerah Cileunyi. Jatinangor hanya sekedar tempat mangkal di malam hari.
Konsumen mereka beragam. Mulai dari “Om-om bermobil” sampai sopir truk yang biasa melintas di malam hari. Kadang, mahasiswa pun ada yang menikmati “jasa” mereka.
“Tapi mahasiswa hanya beberapa. Tahu sendiri kan kantong mahasiswa?” ucap Yl, salah satu PSK di Jatinangor yang masih berusia 21 tahun.
Namun, tidak dipungkiri, ada mahasiswa maupun penduduk Jatinangor yang menjadi pelanggan mereka.
“Ya… ada yang pendatang, ada juga orang Jatinangor, termasuk mahasiswa,” tutur Is, warga Cileunyi yang sering mangkal bersama Yl di dekat sebuah hotel di Jatinangor, ketika dJ menanyakan perihal konsumen mereka.
Lalu, dari mana para “pengguna jasa” itu mengetahui informasi mengenai PSK tersebut? Cara yang paling konvensional adalah dengan berdiri atau mangkal di pinggir jalan. Misalnya, di dekat hotel atau warung rokok. Namun, ada kalanya para PSK itu mengunakan jasa perantara.
“Saya lebih sering menggunakan jasa tukang ojek. Mereka mengantar pelanggan kepada saya, dan saya beri komisi,” tutur Yl lagi.
Baik aparat maupun masyarakat bukannya tutup mata terhadap fenomena ini. Tidak terhitung berapa kali mereka mengingatkan dan menegur kelakuan PSK yang melanggar susila dan agama ini.
Ceu At (55), misalnya. Ia pernah sampai dimarahi oleh Ketua RT setempat. Hal itu terjadi lantaran warga jengah terhadap tingkah Ceu At yang sering nongkrong di pinggir jalan.
Keluarga dan kerabat pun tak henti-hentinya mengingatkan para PSK perihal perbuatan asusila yang biasa mereka lakukan. Kendati kaum kerabatnya berusaha meluruskan jalannya, namun hal itu ternyata tidak banyak mengubah perilaku kupu-kupu malam itu.
Kendati keberadaan PSK di Jatinangor mendapat tanggapan negatif dari masyarakat sekitar, namun sahabat sejati tetap menemani mereka, bahkan di saat-saat tersulit sekali pun.
Adalah Ibu, begitu ia biasa dipanggil, menjadi sahabat Yl sejak pertama kali Yl menginjakkan kaki di Jatinangor. Ia merasa kasihan pada Yl dan selalu mendorong kupu-kupu malam ini untuk berhenti dari kegiatan prostitusi yang biasa dilakukannya.
“Suami gak setuju saya terlalu dekat dan bergaul dengan Yl. Takut terbawa. Tapi saya bilang, orang begitu jangan dikucilkan. Saya selalu mengingatkan Yl untuk berhenti,” papar Ibu yang tinggal tidak jauh dari tempat kos Yl di daerah Cibeusi.
Nasihat maupun teguran terkadang tidak cukup untuk menarik para PSK keluar dari lembah kelam. Salah satu faktor yang dapat memotivasi keinginan untuk berhenti itu adalah the right man in the right time.
“Kalau sudah ada (pria) yang cocok dan baik sama saya, maka saya ingin berhenti,” kata Is, ibu dua anak yang kalau dilihat dari gaya berpakaiannya, tidak menunjukkan bahwa ia seorang PSK.
Hanya Isu
Ketika diminta konfirmasi mengenai keberadaan PSK di Jatinangor, pihak Kecamatan Jatinangor mengaku itu hanya sebatas isu di kalangan masyarakat.
“Saya hanya mendengar selentingan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah desa, dan kalangan pemuda. Katanya (PSK) mangkal di sepanjang jalan Cileunyi sampai Tanjung Sari. Biasanya tengah malam,” ujar H. Agus Munajat, S.E., Kepala Sie Sosial Kecamatan Jatinangor.
Dari penelusuran dJ, PSK yang beroperasi di kawasan pendidikan ini jumlahnya kurang dari lima orang. Tempat yang biasa menjadi tongkrongan adalah Pangkalan Damri (Pangdam), Caringin, dan Cibeusi.
Menurut penuturannya, isu itu sudah didengarnya sejak kurang lebih dua tahun lalu. Isu itu berkembang bersamaan dengan maraknya kabar bahwa di Jatinangor banyak ditemukan sampah kondom di sekitar kos-kosan atau hotel.
Namun, sampai sekarang belum dilakukan langkah konkrit untuk menyikapi hal tersebut. Karenanya, belum dapat dibuktikan keberadaan PSK tersebut.
“Sementara ini saya belum bisa mengiyakan karena belum ada pengecekan langsung di lapangan,” lanjut Agus. Pria kelahiran Bandung 42 tahun lalu ini menyebutkan, alasan belum dilakukannya pengecekan karena belum ada koordinasi dengan pihak terkait, yaitu antara Kepolisian Sektor (Polsek) Jatinangor dan aparat desa. Selain itu, Agus pun belum yakin mengenai tempat beroperasinya PSK di Jatinangor. Lantas kapan koordinasi akan dimulai?
“Rencananya mungkin bulan depan akan ada koordinasi dengan pihak Polsek. Di situ akan direncanakan strategi, cara, dan sistem penanggulangannya,” lanjut Agus.
Jika memang ada PSK di lokasi yang dirazia, baik di rumah kos, hotel, maupun tempat mangkal lainnya, PSK tersebut akan dibawa ke pusat-pusat rehabilitasi atau panti-panti sosial.
Harus Ada Kontrol Ketat
Menurut Budi Rajab, staf pengajar jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad), secara umum kemunculan PSK terkait oleh dua faktor, yaitu segi ekonomi dan adanya peluang.
Kebutuhan atau himpitan ekonomi merupakan faktor utama. Sementara, peluang bisa bermacam-macam. Budi mencontohkan, peluang itu biasanya datang dari pergaulan yang bebas dan tidak terkontrol.
Kurun waktu beroperasinya PSK bergantung pada peluang yang ada. Selama mereka menganggap “pekerjaan” itu masih bisa dilakukan, mereka akan tetap menjadi PSK. Apalagi kalau ternyata pendapatan dengan menjadi PSK lebih besar dibandingkan dengan bekerja sebagai tukang cuci, buruh pabrik, pedagang tingkat menengah, atau pun karyawan kantor.
“Bila peluangnya semakin mengecil, dalam batas tertentu mereka akan berhenti,” ungkap pria kelahiran Tasikmalaya 44 tahun silam ini mantap.
Peluang yang semakin kecil itu dapat terwujud melalui kontrol ketat dari masyarakat. Kontrol itu bisa berwujud teguran sampai pengucilan dari lingkungan sekitar. Namun, sering kali imbauan, teguran, bahkan pengucilan, menjadi tidak mempan.
PSK bisa saja meninggalkan lingkungannya karena merasa terisolasi atau diusir. Namun hal itu tidak menjamin mereka akan berhenti dari pekerjaannya.
“Kalaupun tidak berhenti, mereka bisa keluar,” ucap Budi yang sempat bergabung dalam tim medis yang memeriksa secara rutin PSK di lokalisasi Saritem.
Meski demikian, hal ini bisa menimbulkan masalah baru. Akan ada tempat lain yang potensial sebagai tempat mangkal baru bagi para PSK.
Untuk mengatasinya, Budi menawarkan tiga opsi. Pertama, memberi peluang pekerjaan. Kedua, tingkat upah dari pekerjaan itu cukup sehingga PSK yang terjaring bisa mendapatkan pendapatan yang seimbang dengan saat ia menjadi PSK. Ketiga, kontrol efektif dan ketat dari masyarakat.
Terkait dengan poin ketiga, bila hal tersebut tidak tercipta, maka dikhawatirkan PSK dapat meluas di Jatinangor. Orang yang pertama menjadi PSK baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mengajak orang lain. Namun, yang terpenting adalah kerja sama antara pemerintah dan warga Jatinangor untuk serius memberantas PSK di kawasan pendidikan ini.
“Jika ada perhatian dari pemerintah kepada warga, otomatis warga juga mengerti,” ujar Doyat mengenai pentingnya peranan aparat pemerintah dalam mengatasi masalah PSK.
PSK di Jatinangor memang sudah menjadi sebuah fenomena. Siapa pun tidak bisa menutup mata terhadap realitas ini. bila tidak segera ditanggulangi, bukan tidak mungkin penyakit masyarakat ini akan semakin mengakar di kawasan pendidikan Jatinangor

No comments:

Post a Comment