Thursday, January 8, 2015

Esek-esek di Jatinangor yang Memprihatinkan

Sumber: http://www.kabar-priangan.com/news/detail/11743
 

Eksistensi “ayam kampus” di Jatinangor kini jarang terde­ngar, namun lebih banyak PSK yang me­ngaku mahasiswi alias “ayam kampus” gadung­an. Perlu kerja sama semua pihak agar nama Kawasan Pendidikan Jatinangor kembali bersih.
JATINANGOR salah satu Keca­mat­an di Kabupaten Su­me­dang yang lokasinya berba­tasan dengan Kabupaten Bandung. Di sini terda­pat perguruan tinggi negeri seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Koperasi indonesia (Ikopin), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Magnet yang membuat ka­wasan ini diminati mahasiswa dan orang tua berbagai daerah.
Karena terdapat ribuan mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, Jati­nangor disebut sebagai ka­wasan pendidikan. Eksistensi ma­ha­siswa di sana, secara langsung mendongkrak perekonomian warga se­tempat. Bu­kan hanya pelaku usaha saja yang melirik wilayah Jatinangor. Konon, sejumlah penjaja seks komersial (PSK) pun turut memanfaatkan po­tensi Jatinangor sekaligus dijadikan ladang bisnis birahi.
Salah seorang warga Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor, M. Nana (45) ketika ditemui “KP” di Saung Budaya Jatinangor baru-baru ini, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, sudah bukan rahasia lagi di Jati­nangor marak perempuan “begituan”. “Dugaan PSK yang terbiasa ber­aksi di Jatinangor, eksistesinya cu­kup rapi atau terorganisir. Bahkan, jumlahnya kian ber­tambah dan mereka seolah betah karena ditunjang fasili­tas pendu­kungnya seperti penginapan, hotel, dan kos-kosan,” ujar Nana, akhir pekan lalu.
Soal rumor yang beredar di sana ba­nyak mahasiswi yang disebut-se­but “ayam kampus”, Nana pun mem­benarkan kabar tersebut. Na­mun, kata Nana, eksistensi “ayam kampus” kini tak semarak seperti dulu. Bahkan, kini jarang terdengar karena diduga kalah bersaing de­ngan PSK yang mengaku-ngaku mahasiswi alias ayam kampus gadungan. “Rata-rata, usia cewek itu masih terbilang muda. Demi popularitas (bernilai jual - red), mereka kerap mendompleng status sebagai mahasiswi,” katanya.
Terjadinya beberapa ka­sus asusila seperti pembu­angan bayi dan pemer­kosaan khususnya di Jati­nangor, kata Nana, salah satu bukti kawasan itu menjadi lahan empuk pe­laku ga­ya hidup bebas. Ironis karena sejatinya Jati­­nangor merupakan ka­wasan pendidikan sebagai pencetak generasi muda yang handal dan cerdas.
“Dengan tertang­kap­nya beberapa pasangan me­sum di kos-kosan dan hotel oleh apa­rat baru-baru ini, bukti bahwa Jatinangor berpo­tensi banyak aksi me­sum,” tutur Nana.
Mengubah perilaku
Sebetulnya, bisnis seks bukan ha­nya ada di Jatinangor. Di wilayah lain pun ba­nyak. Namun, menurut Akti­vis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabu­paten Sumedang, Taufik (40), Jatinangor berbeda. “Gaya pelaku hidup bebas di Ci­manggung berbeda dengan di Ja­tin­angor karena me­reka sekadar sam­pingan mencari uang dan untuk menutupi kebutuhan biologis saja,” ucap Taufik.
Penyakit masyarakat di Jatinangor semakin memprihatinkan. Sebagai upaya penanggulangannya, tentu butuh kerja sama masyarakat dan lin­tas unsur dalam menekan aksi pelaku bisnis berbau seks tersebut. “Ini supaya bisa mengubah perilaku PSK dan menekan HIV/AIDS,” ujar Taufiq. (Aziz Abdullah/”KP”)***

No comments:

Post a Comment