Saturday, November 23, 2013

Sepuluh penyebab perceraian


Angka perceraian di Indonesia cenderung meningkat, bahkan ada yang menyatakan bahwa angka perceraian di Indonesia adalah tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Angka perceraian di Indonesia memang masih lebih rendah dibandingkan angka perceraian di Selandia Baru ataupun Belgia, namun ini bukan alasan bagi kita untuk tidak prihatin dengan kondisi di Indonesia.

Berikut ini beberapa sebab terjadinya perceraian. Semoga ini benar di sisi Allah dan Rasul:
  1. Salah Niat. Niat yang tidak tulus dengan Tuhan dan dengan Rasulullah saw. Perkawinan tidak diniatkan untuk mendapatkan rasa takut dengan Allah dan rindukan Nabi saw. Sedangkan ini adalah hakikat kehidupan kita di atas muka bumi. Kita mengaku Allah itu Tuhan kita – yang wajib kita besarkan dan agungkan. Kita juga mengaku Nabi Muhammad saw itu adalah ikutan kita. Justeru sepatutnya apa saja pekerjaan kita di dunia ini ditujukan untuk mendapat rasa hati yang tepat terhadap Allah dan Rasulullah saw. Jadi, Niat Menikah Karena Allah dan Membesarkan Sunnah Nabi saw adalah suatu yang perlu di awal Perkawinan. Niat ini mesti ada di hati kedua pengantin, kedua ibu bapa mereka dan seisi keluarga. Tanpa niat yang benar, Perkawinan yang baik tidak akan dapat dilaksanakan.
  2. Kurang bertaubat. Bertaubat dengan segala dosa, merasakan diri adalah hamba yang hina merupakan satu keperluan agar Allah SWT mengampuni kita. Jika Tuhan telah ampunkan kita, urusan lainnya akan dimudahkan. Mengekalkan rasa bersalah dan berdosa adalah suatu perasaan yang wajib ada di dalam hati kita. Sebab itu senantiasa bertaubat, beristighfar itu sangat disuruh. Banyak bertaubat akan membuang sifat sombong didalam hati.
  3. Bermesraan sebelum menikah. Hal ini akan menjadikan pasangan pengantin itu sudah tidak mempunyai kenikmatan yang hakiki. Mereka sudah kehilangan detik ajaib yang mampu mengikat hati mereka untuk saling bertaut, berkasih sayang dan bertanggung jawab terhadap pasangan masing-masing. Detik ajaib itu ialah keadaan lelaki perempuan yang belum pernah kenal mengenal di malam pertama. Hanya mereka yang pernah menempuhnya saja yang mengetahui betapa berharga dan bernilainya detik malam pertama tersebut. Ianya tidak wujud dalam diari kehidupan pengantin yang sudah ‘terlalu’ kenal satu sama lain sebelum kawin. Dalam agama Islam, yang dilarang (haram) itu bukan hanya perbuatan zina, tapi juga perbuatan mendekati zina.
  4. Berzina sebelum menikah. Jika pasangan ini akhirnya menikah, kehidupan sebagai pasangan yang sah itu telah dicemari dengan perbuatan dosa sebelum menikah. Dosa besar yang tidak ditaubatkan sangat mengundang kemurkaan Allah. Akhirnya perkawinannya sukar memperolehi keberkatan.
  5. Meninggalkan shalat wajib lima waktu atau lalai dari menghayatinya. Shalat adalah tiang agama. Mendirikan sembahyang artinya menegakkan agama. Mendirikan sembahyang yang dimaksudkan ini bukanlah sekadar sembahyang ala kadar saja. Sembahyang wajib dilaksanakan dengan penuh penghayatan khusyuk. Sembahyang yang khusyuk mampu mengubah peribadi dan mempunyai kesan ajaib terhadap diri, suami atau isteri dan keluarga. Inilah sembahyang yang menjadi sumber kekuatan individu, keluarga, masyarakat dan negara islam. Sembahyang berjemaah pula mampu menjadi pengikat hati setiap pasangan suami isteri.
  6. Kurang sholat malam. Sholat malam adalah elemen penyejuk hati, penenang jiwa. Jiwa yang lapang dan tenteram tidak akan mudah berkeluh kesah dengan masalah yang terjadi. Semua situasi dapat dihadapi dengan tenang. Jika ada masalah, maka waktu tahajjud adalah masa terbaik untuk bangun menghadap ilahi, mengadu dan meminta pertolonganNya. Hasilnya sangat mujarab dan ajaib!
  7. Kurang bersedekah. Bersedekah adalah sunnah Rasulullah saw yang sangat berkesan dalam membina jalinan hubungan kasih sayang. Sedekah membantu orang yang memerlukan dalam bentuk apa saja yang kita mampu. Memberi sedekah itu amat berharga di sisi Tuhan walaupun hanya dengan senyuman. Orang yang berdoa, mengharapkan Tuhan memakbulkan doa mereka. Maka sedekah menjadi sebab doa kita dimakbulkan Tuhan. Sedekah menajamkan doa.
  8. Kurang peduli dan berkasih sayang dengan orang lain. Pengantin mesti berupaya menjadi orang yang dapat berkasih sayang, bersikap mesra dengan siapa saja, Berilah perhatian dan kasih sayang kepada orang lain tanpa syarat. Jangan hanya bersikap peduli dengan pasangan sendiri saja. Tebarkan ruang kasih sayang untuk sesama insan. Hargai orang lain, nanti kita akan lihat pasangan kita juga turut menghargai kita. Gembirakan hamba Allah, nanti Allah akan gembirakan kita. Tidak rugi jika kita memberi karena hanya yang selalu memberi saja yang akan memperoleh pemberian.
  9. Islam tidak dijadikan panduan hidup. Jadikan Islam itu sebagai agama penyuluh hidup demi keselamatan dunia akhirat. Jadikan agama sebagai panduan kerana kita diwajibkan memahami, meyakini, mengamalkan dan menghayati ajaran agama. Seluruh apa yang ada dalam ajaran Islam adalah merupakan kehendak Allah SWT dan Rasul SAW. Allah sangat menginginkan kita menjadi hamba yang taat, Dan Rasul sangat mendoakan kita menjadi ummat yang mengikut panduan Baginda dalam kehidupan. Maka jadikanlah Islam itu sebagai cita-cita hidup dan mati kita. Kita hanya akan mati dan hidup di dalam agama suci ini. Kehidupan yang lalai, main-main, suka-suka, berfoya-foya adalah kehidupan menipu yang pasti akan menggagalkan apa saja cita-cita baik yang ada di dalam hati kita. Dua hal yang berbeda, tidak akan dapat duduk bersama di dalam satu hati.
  10. Kurangnya ilmu tentang pernikahan. Dalamilah ilmu tentang Perkawinan. Luaskan kefahaman diri terhadap agama, sejarah Nabi SAW dan amalan beragama yang sebenarnya.
Sumber:

No comments:

Post a Comment