Friday, January 9, 2015

Nikah Sirri Melanggar Hukum Negara

Sumber: http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=229749

Jakarta (Pinmas) —- Pernikahan selain harus dilakukan sesuai ajaran agama, juga harus dicatat oleh petugas kantor urusan agama (KUA). Karena itu nikah sirri bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan, yaitu UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

“Nikah sirri merupakan nikah yang bermasalah, melanggar hukum negara,” tandas Dirjen Bimas Islam Machasin menjawab pertanyaan wartawan di ruang kerjanya di lantai 6 Gedung Kementerian Agama Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat, Rabu (24/12).

Didampingi Muchtar Ali, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Machasin menjelaskan PP No. 9 tahun 1975 sebagai peraturan tentang pelaksanaan UU No.1 tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan bagi penganut Islam dlakukan oleh pegawai pencatat, dengan tata cara pencatatan.

Ditambahkan Machasin,  sebelum ada UU nomor 1 tahun 1974, masalah pernikahan diatur dalam UU No. 22 tahun 1946 yang menyebutkan; perkawinan diawasi oleh pegawai pencatat nikah. “Dalam negara yang teratur segala hal-hal yang bersangkut paut dengan pendududk harus dicatat, kelahiran, pernikahan, kematian dan sebagainya,” jelas Machasin.

“Nikah di bawah tangan atau nikah  sirri adalah pernikahan yang dilakukan di luar pengawasan petugas pencatat nikah dan tidak tercatat di KUA,” terangnya.

Machasin juga mengatakan, pelayanan pencatatan nikah merupakan salah satu target reformasi birokrasi di lingkungan Ditjen Bimas Islam yang dilakukan melalui pendekatan sistemik.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan praktik jasa layanan nikah sirri. Pemerintah telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk pelayanan nikah, seperti pembebasan biaya nikah jika dilaksanakan pada kantor KUA pada jam kerja.

Selain itu lanjut Dirjen Bimas Islam, pihaknya melakukan pemantauan pelaksanaan kotak aduan masyarakat di KUA serta sosialisasi alamat pengaduan melalui website http://simkah.kemenag.go.id/dumaskua, sms gateway 08221990000, dan PO BOX 3733 JKP 10037. (ks/mkd/mkd)

Thursday, January 8, 2015

Razia Pasangan Mesum di Sumedang

Sumber: http://www.jatinangorku.com/tim-gabungan-razia-pasangan-mesum.html

Tim Gabungan Razia Pasangan Mesum
Jatinangorku.com – Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kab. Sumedang bersama tim gabungan dari Satpol PP serta unsur TNI dan Polri, terus mengintensifkan razia PSK (pekerja seks komersil) dan pasangan mesumnya di hotel, penginapan serta warung remang-remang (warem). Selain memberantas praktik kemaksiatan, razia itu pun sekaligus mencegah eksodus WTS (Wanita Tuna Susila) eks Gang Doli, Surabaya yang berkeliaran di Sumedang, pascapenutupan lokalisasi terbesar di Indonesia tersebut.
“Namun, dalam razia sebelumnya, kami tidak menemukan WTS eks Gang Doli. Hasil razia di wilayah Sumedang kota minggu lalu, PSK yang terjaring operasi sebagian besar warga lokal Sumedang. Mereka kebanyakan pemain baru masih ABG (anak baru gede),” kata Kepala Dinsosnaker Kab. Sumedang, Iwa Kuswaeri di kantornya, Jumat (4/7/2014).
Menurut dia, meski razia minggu lalu tak menemukan WTS eks Gang Doli, namun operasi tersebut akan terus dilakukan secara kontinyu dan intensif. Terlebih potensi WTS eks Gang Doli masuk dan berkeliaran ke Sumedang cukup tinggi, karena Sumedang berbatasan langsung dengan Bandung. Bandung sendiri, menjadi salah satu daerah tujuan pelarian para WTS eks Gang Doli, Surabaya. “Oleh karena itu, guna mengantisipasi penyebaran WTS eks Gang Doli masuk dan berkeliaran ke Sumedang, kami akan mengintensifkan razia di sejumlah tempat,” kata Iwa.
Ditanya apabila petugas berhasil menjaring WTS eks Gang Doli, Iwa mengatakan, Dinsosnaker akan berkoordinasi dengan Dinsos Provinsi Jabar untuk penanganannya. Akan tetapi, kemungkinan besar WTS eks Gang Doli akan dikirimkan ke panti rehabilitasi di Palimanan, Cirebon. Mereka akan diberi pembinaan sekaligus keterampilan kerja sehingga mereka bisa mengais rezeki yang halal. “Jadi, kalau ada WTS eks Gang Doli terjaring, kemungkinan akan dikirimkan ke panti di Palimanan Cirebon,” ujarnya.
Iwa menyebutkan, hasil razia PSK di wilayah Kec. Sumedang Selatan dan Sumedang Utara minggu lalu, terjaring 13 orang PSK dan pasangan mesumnya, termasuk 1 waria. Mereka ketahuan melakukan mesum di dalam kamar hotel dan penginapan. Dari 13 orang tersebut, sebagian besar PSK warga lokal Sumedang dan rata-rata pemain baru berusia remaja. Bagi PSK luar Sumedang, diberikan peringatan oleh Polres Sumedang. Sementara warga lokal Sumedang, diberi pengarahan dan pembinaan di kantor Dinsosnaker agar mereka tidak mengulangi pekerjaan haram tersebut.
“Bagi PSK berusia remaja, kami panggil orang tuanya. Kami minta orang tuanya untuk menjaga dan membina anaknya supaya tidak mengulangi perbuatan negatif tersebut. Bahkan semua PSK, pasangan mesum serta waria, diambil darahnya guna mengecek kemungkinan terjangkit HIV/Aids. Pengambilan darah oleh petugas Dinkes. Namun sampai sekarang, hasilnya belum diketahui. Setiap operasi, PSK dan lelaki hidung belang yang terjaring akan diambil darahnya. Upaya itu guna mengantisipasi penularan dan peningkatan kasus HIV/Aids di masyarakat,” ujar Iwa. 

Menteri Agama Harap OSIS Madrasah Jadi Benteng Dekadensi Moral Remaja

Sumber: http://www.jatinangorku.com/dekadensi-moral-remaja-marak-menag-harap-osis-madrasah-jadi-benteng.html


Jatinangorku.com – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Madrasah di seluruh Tanah Air dapat menjadi benteng terhadap maraknya problem dekadensi moral di kalangan remaja yang sangat meresahkan masyarakat.
Harapan tersebut disampaikan Menag dalam sambutannya saat membuka JamboreOSIS Madrasah (JAMSISMAS) Tingkat Nasional Tahun 2014 di Bumi Perkemahan Jatinangor, Rabu (13/11).
“Saya berharap OSIS Madrasah di seluruh Tanah Air dapat menjadi banteng pertahanan para remaja dari penyebaran virus-virus dekadensi moral remaja,” harap Menag.
Maraknya problem yang mengitari moral remaja, antara lain penyalahgunaan narkoba, miras, seks bebas, tawuran pelajar, dan perilaku menyimpang lainnya, diakui Menag sebagai hal yang sangat memprihatinkan.
Karenanya, Menag minta kegiatan JAMSISMAS tidak sekedar menjadi ajang perkenalan dan pertemuan biasa saja, namun ditingkatkan menjadi ajang menjalin jaringan dan mempererat ukhuwwah Islamiyyah dan ukhuwwah wathaniyyah untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
Pada kesempatan itu, Menag juga berpesan agar siswa madrasah harus menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulai yang antara lain ditandai selalu bertutur kata yang benar dan santun.

Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum Cegah Perilaku Seks Bebas

Sumber: http://www.jatinangorku.com/kesehatan-reproduksi-masuk-kurikulum-cegah-perilaku-seks-bebas.html

Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum, Cegah Perilaku Seks Bebas
Jatinangorku.com – Mitra Citra Keluarga (MCR) Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat, mendesak agar kesehatan reproduksi masuk dalam kurikulum bagi siswa SMP, SMA dan sederajat. Hal ini diyakini akan meminimalisasi penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja.
“Para siswa tahu organ katak. Tetapi mereka tidak tahu organnya sendiri. Masa organ sendiri tidak tahu? Hal itu menjadi salah satu penyebab terjadinya penyimpangan perilaku seks,” ujar Koordinator Senior Mitra Citra Remaja, Dian M. Marviana di sela-sela diskusi memperingati International Youth Day (Hari Pemuda Internasional), Jumat (6/9).
Diungkapkan Dian, sebenarnya sejak 20 tahun lalu MCR sudah memperjuangkan agar pendidikan kesehatan repoduksi bisa masuk dalam kurikulum. Namun hingga saat ini belum terwujud karena masih banyak pihak yang menganggapnya tabu. “Padahal dengan pendidikan kesehatan reproduksi, setidaknya para siswa bisa memperoleh pengetahuan tentang risiko yang dihadapinya,” jelasnya.
Kendati masih belum bisa masuk kurikulum, Dian berharap, kesehatan reproduksi bisa masuk sebagai sisipan dalam mata pelajaran di sekolah. Sehingga para guru bisa menjelaskan pendidikan seks.
“Banyak kasus kehamilan tidak diinginkan akibat ketidaktahuan pelaku,” tuturnya.
Menurut Survei BKKBN tahun 2008, 57% remaja Kota Bandung usia 15-24 tahun telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Dari 54 responden remaja yang aktif secara seksual, usia pertama kali melakukan hubungan seksual paling dominan pada rentang usia 16-18 tahun sebesar 59%.
“Saat ini kita memang memiliki 6 sekolah binaan. Tetapi kami sangat berharap, ada kebijakan dari pemerintah yang bisa mengikat untuk dilaksanakan oleh sekolah. Oleh karenanya, kita berharap Wali Kota Bandung terpilih, Ridwan Kamil, juga mau memikirkan hal ini,” katanya.
Aborsi
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah PKBI Jabar, Dr. Chairul Amri mengungkapkan, banyak kasus remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan berakhir dengan aborsi tidak aman. Hal itu dilakukan karena mereka tidak memiliki pilihan untuk meneruskan kehamilannya. “Kita hanya mampu menstigma mereka tanpa menyediakan pilihan akses layanan yang komprehensif dan ramah remaja,” jelasnya.
Diakui Chairul, pendidikan seks memang tidak bisa mereduksi prostitusi anak atau remaja. Tetapi setidaknya mereka mampu menjaga dirinya dari dampak yang lebih buruk.

Gunung Es Seks Bebas Dan Pernikahan

Sumber: http://sumedangonline.com/gunung-es-seks-bebas-dan-pernikahan/12762/

Memiliki lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang tentu menjadi cita-cita bersama. Sesuai dengan fitrah manusia, lingkungan yang tentram jauh dari kemaksiatan akan diimpikan. Hal ini sejalan dengan visi Kabupaten Sumedang untuk menjadi kabupaten yang agamis. Namun seperti sudah menjadi rahasia umum, perilaku seks bebas marak terjadi di dua titik kawasan pendidikan Kabupaten Sumedang. Jatinangor sebagai pusat pendidikan nasional dengan 3 institusi perguruan tinggi negerinya serta kawasan angkrek di pusat kota Sumedang sebagai alternatif pendidikan tinggi tingkat lokal di kawasan timur Jawa Barat.
Dari hasil razia yang dilakukan Polsek Jatinangor,  terjaring enam pasangan bukan muhrim (Sumedang Ekspres 28 /01/13). Mereka adalah pasangan mahasiswa dan masyarakat umum yang diduga kumpul kebo karena tidak bisa menunjukkan surat nikah. Razia ini dilakukan dengan menyisir tempat kos beserta hotel melati di seputar Jatinangor. Namun seperti diketahui bersama, hasil tersebut menyimpan potensi  fenomena gunung es. Tentu masih banyak pasangan tidak syah yang lolos dari razia tersebut dengan berbagai alasan.
Tidak jauh dengan kawasan pendidikan berlevel nasional, kawasan angkrek sebagai pusat pendidikan level lokal pun merujuk pola yg sama.  Warga yang tinggal di sekitar tempat kosan di wilayah Sumedang kota , dibuat geram oleh ulah penghuni kosan yang kerap memasukan tamu laki-laki yang berbeda pada malam hari. Warga menduga kosan tersebut digunakan sebagai tempat mesum (Kabar priangan, 28/01/13)
Tidak aneh, Kabupaten Sumedang menjadi tempat epidemi HIV/AIDS. Menurut Direktur RSUD Sumedang, Dr. H. Hilman Taufik, M.Kes, berdasarkan data kumulatif HIV dan AIDS tahun 2004 hingga September 2012, penderita yang sudah terinfeksi HIV sebanyak 90 orang, AIDS 107 orang dan penderita yang meninggal dunia akibat HIV/AIDS sebanyak 63 orang. Kasus HIV/AIDS ditemukan di semua kecamatan di Kab. Sumedang, kecuali Kec. Surian dan Ganeas (http://m.pikiran-rakyat.com/node/207661)
Selain itu, kehamilan tidak diinginkan beserta pernikahan akibat kecelakaan meningkat tiap tahunnya. Hal ini, menurunkan kualitas hidup generasi & pola relasi keluarga di masyarakat. Berbagai ekses negatif muncul dari permasalahan seks bebas. Para orang tua yang kecewa dengan perilaku anaknya dan masa depan yang rumit dijalani bagi pasangan seks bebas tersebut karena tuntutan orang tua untuk menikah meski tanpa kesiapan.
HAM  agama baru ?
Tidak bisa dipungkiri perilaku seks bebas diakibatkan adanya pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa. Kepuasan jasadiyah seakan menjadi orientasi tak berakhir tanpa memperhatikan  dampak lain. penerapan sistem Kapitalisme yang mengagungkan kebebasan individu dalam hal berperilaku, beragama, berpendapat dan berkepemilikan menguatkan pergeseran nilai ini. Kebebasan individu lahir dari keyakinan/akidah sekularisme yang meniadakan peran Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan. Manusialah yang berhak membuat aturan.
Muncullah Hak Asasi manusia (HAM) yang dianggap ide modern yang membawa manusia kepada peradaban lebih tinggi. Namun sesungguhnya tameng HAM membawa kesengsaraan pada individu dengan menuhankan kebebasan diri sendiri.
Selain itu, tameng HAM hanya menjadikan upaya kontrol sosial terhalang budaya permisif. Masyarakat  merasa tidak bertanggung jawab untuk menghentikan aktivitas-aktivitas seks bebas yang ada di sekitarnya. Saat ini anak remaja yang berpacaran sudah dianggap biasa dan dianggap gaul. Bahkan yang tidak berpacaran dianggap aneh dan dicurigai sebagai perbuatan yang tidak normal. Aktivitas pacaran yang mendekati perbuatan zina (berdua-duaan, berpegangan tangan, berciuman di depan umum, bahkan hubungan seks) dianggap sebagai konsekuensi kehidupan yang modern.
Ketika ada pihak yang berani melakukan kontrol sosialnya seperti yang dilakukan warga   daerah angkrek dengan menginterogasi tamu laki-laki sepulang menemui penghuni kosan, hal ini sulit ditindak lanjuti. Terlebih , ketika masalah itu disampaikan kepada pemilik kosan, tidak mendapat respon. “ Meski pun geram, tetapi warga disini tidak bisa berbuat apa-apa. Jeleknya lagi ada segelintir pemuda yang memanfaatkan untuk minta ‘gratisan ‘ kepada penghuni kosan yang sudah diketahui ‘nyambi’ jadi PSK  (Kabar priangan, 28/01/13)
Ketiadaan payung hukum yang jelas, justru membuat masyarakat yang ingin melakukan kontrol sosial merasakan bumerang atas kepedulian yang dilakukan. Padahal apa yang dilakukan demi ketertiban dan dan ketentraman masyarakat bersama. Maklum saja  Negara saat ini tidak berfungsi sebagai pengurus dan pelayan rakyat, penjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan seluruh rakyatnya, serta penjaga moral dan akidah masyarakat. Negara tidak memiliki jaminan hukum untuk menghapus sarana dan prasarana yang menunjang maraknya perilaku seks bebas. Negara juga tidak memiliki kepastian hukum untuk menindak tegas segala bentuk kejahatan, termasuk kejahatan asusila. Pasalnya, negara telah dipasung oleh kebebasan individu yang dijamin atas nama HAM (Hak Asasi Manusia). HAM telah melegalisasi setiap individu untuk berperilaku bebas, termasuk melakukan seks bebas. Negara membiarkannya bahkan memfasilitasi sarana prasarana yang memungkinkan untuk diakses dalam melakukan perbuatan seks bebas. Ini terjadi karena negara ditegakkan atas sistem politik demokrasi yang akan senantiasa menjamin kebebasan, salah satunya adalah kebebasan berprilaku atas nama HAM.
Solusi islam
Bila kembali ke fitrah manusia, tentu tidak ada satu orang pun manusia yang menyetujui aktivitas  seks bebas.   Allah berfirman dalam Al Qur’an yang artinya :
“ Maha Suci Allah yang menciptakan semuanya berpasangan daripada yang ditumbuhkan di bumi dan diri mereka, juga daripada apa yang mereka tidak ketahui.”
Surah Yasin: 36
Bingkai pasangan ini, tentu ada dalam pernikahan yang melahirkan perasaaan tentram dan damai :
“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptkan untuk kamu, isteri-isteri daipada jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dengannya dan dijadikan di antara kamu perasaan kasih sayang. Sesungguhnya itu mengandungi ketrangan-keterangan untuk orang yang berfikir.” Surah ar-Rum:21
Pemenuhan hawa nafsu hanya menjerumuskan manusia pada kehidupan seperti binatang bahkan lebih buruk. [QS. Al FuRqaan (25) ayat 43-44]
“TeRangkanlah kepadaku tentang ORang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihaRa atasnya? Atau apakah kamu mengiRa bahwa kebanyakan meReka itu mendengaR atau memahami. MeReka itu tidak lain, hanyalah sepeRti binatang teRnak, bahkan meReka lebih sesat jalannya (daRi binatang teRnak itu).”
Permasalahannya saat ini adalah apakah kita menginginkan tatanan kehidupan yang baik sesuai fitrah yang diciptakan Allah SWT, ataukah masih terjebak pada pemenuhan hawa nafsu semata dengan berbagai tameng modernitas semu?
Sebenarnya islam sudah memberikan seperangkat aturan, agar permasalahan seks bebas ini bisa diselesaikan. Solusi Islam untuk mengatasi permasalahan seks bebas, adalah sebagai berikut: Pertama, Islam telah memerintahkan kepada kepala keluarga untuk mendidik anggota keluarga dengan Islam agar jauh dari api neraka (tidak melakukan kemaksiatan) (Lihat: QS at-Tahrim [66]: 6).
Kedua, sebagai tindakan preventif, Islam memiliki seperangkat solusi, di antaranya:
1. Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat, yang bila dilanggar tentu ada sanksinya. Terkait aurat laki-laki yang wajib ditutup, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya (laki-laki) dari bawah pusar sampai ke dua lututnya merupakan auratnya.” (HR Ahmad).” Adapun terkait aurat wanita, Allah SWT telah merintahkan kaum wanita untuk menutup aurat mereka, termasuk memakai kerudung dan jilbab (Lihat: QS an-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59). Dengan tertutupnya aurat pria dan wanita maka pornoaksi dan pornografi tidak akan ada di tengah masyarakat. Dengan begitu, naluri seksual tidak distimulasi pada saat yang tidak tepat.
2. Islam mengharuskan laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan mereka (QS an-Nur [24]: 30-31). Laki-laki tidak boleh memandang perempuan dengan pandangan yang bersifat seksual. Demikian pula perempuan. Mereka harus menghindari diri dari perbincangan yang mengarah pada eksploitasi seksualitas. Perbincangan di antara mereka hanya perbincangan tugas dan keahlian mereka saja demi mewujudkan kebaikan dan kemajuan.
3. Islam menerapkan pemisahan antara tempat aktivitas laki-laki dan perempuan dalam kehidupan umum di tempat-tempat tertentu, seperti dalam aktivitas belajar-mengajar, perayaan berbagai acara, di tempat bekerja (tidak satu ruangan antara manajer dan sekretaris yang perempuan, misalnya).
4. Islam melarang mendekati aktivitas-aktivitas yang merangsang munculnya perzinaan (QS al-Isra’ [17]: 32). Islam, misalnya, telah melarang aktivitas berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan tanpa ada kepentingan yang dibolehkan syariah. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan sekali-kali seorang lelaki berdia-duan dengan perempuan (berkhalwat) karena sesungguhnya setan ada sebagai pihak ketiga.” (HR al-Baihaqi).
5. Islam melarang seorang pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya. Rafi’ ibnu Rifa’a pernah bertutur, “Nabi saw. telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau bersabda “Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya tukang roti, pemintal, atau pengukir.”
6. Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya solusi untuk memenuhi naluri seksual yang sesuai dengan fitrah dan tujuan penciptaan naluri seks. Islam mendorong setiap Muslim yang telah mampu menanggung beban untuk menikah sebagai cara pemenuhan naluri seksual (Lihat: QS an-Nur [24]: 32). Rasulullah saw. juga bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu memikul beban, hendaklah ia menikah karena menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi pengendali.”
Ketiga, Islam memelihara urusan masyarakat agar berjalan sesuai dengan aturan Allah SWT. Oleh karena itu, Islam telah menyiapkan seperangkat sanksi yang diterapkan negara bagi pelanggar aturan Allah SWT, dalam hal ini untuk mencegah terjadinya seks bebas, yaitu: Allah SWT menetapkan hukuman rajam bagi pezina muhshan (yang sudah menikah) dan cambuk 100 kali bagi pezina yang bukan muhshan.
Keempat, Islam melarang aktivitas membuat dan mencetak gambar porno serta membuat cerita-cerita bertema cinta dan yang merangsang nafsu syahwat. Para pelakunya akan diberikan tindakan yang tegas tanpa adanya diskriminasi hukum.
Kelima, Islam memerintahkan amar makruf nahi mungkar, tidak boleh membiarkan ada suatu kemaksiatan (Lihat: QS al-Anfal [8]: 25).
Sistem peraturan inilah yang menjamin tatanan kehidupan tentram, dari mulai zaman Rasulullah sampai dengan khulafaur rasyidin, dilanjutkan oleh para khalifah sampai pada masa kemundurannya karena penerapan yang kurang optimal pada waktu tsb.
Oleh karena itu, ketika sudah jelas Islam telah memiliki seperangkat aturan yang menjaga dan melindungi masyarakat dari seks bebas maka sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim yang menginginkan kebaikan hidup di dunia  dan di akhirat, berpegang teguh  terhadap SyariahNya dan menjadikanya sebagai solusi tuntas atas seluruh masalah manusia termasuk masalah seks bebas. Solusi tuntas Islam itu hanya bisa berjalan melalui penerapan sistem politik Islam yaitu Khilafah Islamiyah.
Wallahu ‘alam bishowwab.
Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Kab. Sumedang
Ketua
Ekha Putri M.P., S.P.

Kondom Laris Manis di Jatinangor

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2010/08/06/kondom-laris-manis-di-jatinangor-217814.html


Meningkatnya kesadaran menghindari HIV/AIDS atau meningkatnya praktik mesum?
Senin lalu, 2 Agustus 2010, saya naik bis dari Padalarang menuju Jakarta. Setelah menolak bis pertama yang memaksa saya naik di ‘bangku’ yang tidak layak, akhirnya saya rela menunggu sekita lima belas menit sebelum bis berikutnya datang. Saya pun naik dan berharap yang duduk di sebelah saya adalah perempuan. Risih rasanya dua jam berada di dalam bis jika di samping kita yang duduk adalah lawan jenis. Memang mereka tidak bertingkah aneh-aneh tapi saya selalu berdoa agar saya mendapat teman duduk perempuan. Rupanya doa saya hari itu tidak dikabulkan L Ketika saya naik, yang tersisa benar-benar tidak ada pilihan. Bangku yang kosong semuanya di sebelah kaum Adam. Setelah berfikir cepat, saya pun menentukan pilihan. Saya duduk di sebelah laki-laki yang nampaknya masih muda. Mungkin usianya baru 17 tahun. Ia membawa gitar yang terbungkus sarung kulit hitam.
Alhamdulillah. Sepanjang perjalanan, dia tidak macam-macam. Soalnya saya sudah sering mendengar cerita-cerita dan membaca berita seputar pelecehan yang terjadi di angkutan umum. Terima kasih, De.
Sekitar sepuluh menit berlalu, bis belum juga berangkat. Saya mengeluarkan hp. Saya mengirim pesan ke beberapa orang yang sangat tercinta bahwa saya sudah di bis dan on the way back to Jakarta. Konsentrasi saya pecah ketika mendengar teriakan tukang Koran. “Koran, koran, Pikiran Rakyat, Tribune, Tribune, Tribune cuma serebu!”
Saya mendongak. Terlihat jelas dia menjual koran Tribune dan membentangkannya di depan saya hingga dengan mudah saya melihat dengan jelas headlinenya, “Kondom laris manis di Jatinangor.”
Pikiranku bertanya otomatis. Jatinagor? Bukannya itu area kampus? Dengan segera aku mengasongkan duit seribuan dan membeli Tribune Jabar. Aku langsung membaca headline tadi. Isinya sungguh memprihatinkan.
Penjualan kondom paling banyak ada di kawasan Jatinangor. Dikatakan bahwa penjualan kondom berada di bawah penjualan rokok. Dijelaskan pula kondom sangat laris ketika malam minggu tiba. Dari pengakuan seorang mahasiswi yang kuliah di Jatinangor, disebutkan bahwa kondom bekas memang banyak ditemukan di sekitar kos-kosan yang ada di sekitar daerah tersebut. Bahkan terlihat berserakan di gang-gang sempit. Bukan di tempah sampah. Ini bukan pemandangan baru dan sudah berlangsung cukup lama. Selain di gang-gang sempit, barang yang bisa diperoleh dengan harga Rp 10.500 hingga Rp 19.500 ini dibuang juga ke saluran pembuangan WC. Petugas yang melakukan penyedotan WC sempat kaget karena ditemukan kondom ketika sedang bertugas.
Mahasiswi ini sendiri mengaku tidak kaget mengingat banyak kos yang tidak memberlakukan aturan yang ketat. Banyak kosan yang campur. Bisa dihuni laki-laki atau perempuan. Orang pun bisa menginap semaunya di kosan cewek atau cowok. Beberapa waktu lalu juga polisi sempat melakukan penggerebekan di sebuah wisma yang sering digunakan untuk mahasiswa melakukan praktik mesum.
Seorang mahasiswa yang bernama Gunawan juga mengatakan jika dirinya kerap menemukan kondom bekas di kamar mandi kosnya. Hal ini terjadi ketika ia sedang membersihkan bak mandi di kosnya.
Selain di Jatinangor, kondom juga laris di Jl. Supratman, Bandung. Apalagi jika Malam Minggu, benda ini dibeli secara rombongan. Biasanya yang membeli adalah para remaja pria pada malam hari. Selain itu, sebagian besar pembelian kondom dibarengi rokok dan minuman mineral.
Supervisor Marketing Damendra Kumar Tyagi (DKT), Yotam Adua, mengatakan, penjualan kondom, khususnya di Kota Bandung, mengalami peningkatan. Peningkatan penjualan kondom itu terjadi karena masyarakat semakin sadar untuk menghindari penularan virus HIV/AIDS. Kesadaran ini mempengaruhi penjualan kondom. Ia mengakui jika banyaknya penjualan kondom tentu dibarengi adanya kegiatan seks.
Menurut Henri, Sekertaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, pembelian alat kontrasepsi ini tergolong bebas. Siapapun dapat membelinya. Hal ini agak berbeda dengan rokok yang memiliki aturan bahwa mereka yang di bawah 18 tahun tidak boleh membeli. Kalau secara sales non food setiap tahun ada peningkatan satu persen, penjualan kondom memberi kontribusi peningkatan 7-8 persen tiap tahun. Merek yang paling laris adalah merek yang paling sering diiklankan di TV. Apalagi harganya terjangkau.
Mungkin memang benar yang dikatakan narasumber di atas bahwa peningkatan kesadaran penularan virus HIV membuat masyarakat membeli barang yang termasuk kategori obat-obatan ini. Namun di sisi lain, sudah barang tentu dibarengi kegiatan seks yang notabene dilakukan mereka yang belum menikah. Apalagi sudah jelas disebutkan bahwa penggunaan barang tersebut terjadi di wilayah kosan mahasiswa. Sudah dapat dipastikan sebagian besar dari mereka masih berstatus lajang atau bujang. Memprihatinkan. Para mahasiswa yang seharusnya memiliki wawasan intelektual ini ternyata dengan bebas melakukan praktik nonintelektual di kosannya.
Miris dan sedih tentunya mencermati kondisi di atas. Sepertinya perhatian dan pembinaan moral dari para orang tua, pendidik dan para ulama harus lebih ditingkatkan. Penanaman nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa yang semakin tergerus oleh keedanan zaman, adalah sebuah kewajiban melekat. Tidak selesai sampai disitu, nampaknya perlu ada aturan baru terhadap pembelian kondom sehingga tidak bisa dibeli dengan bebas oleh sembarang usia.

Fakta Jatinangor

Sumber: http://detikhots.info/fakta-jatinangor/

Terletak di wilayah Kabupaten Sumedang, propinsi Jawa Barat, Jatinangor selama lebih dari sepuluh tahun terakhir dikenal sebagai kawasan pendidikan. Aktivitas mahasiswa di empat perguruan tinggi yang berada di Jatinangor menjadi bagian utama dinamika kehidupan di daerah ini.
Berbagai cerita mengenai mahasiswa yang sebagian besar berstatus anak kos menjadi kisah klasik tentang area Jatinangor. Namun, siapa sangka ada kisah lain yang lebih menarik dan menggelitik di kawasan padat mahasiswa ini.
Kisah itu berangkat dari adanya beberapa penduduk asli Jatinangor yang mencari nafkah dengan menjadi Pekerja Seks Komersil (PSK) di kawasan ini. Tidak ada data pasti mengenai jumlah mereka. Meski jumlahnya terbilang kecil, tidak berarti keberadaan mereka dapat diabaikan begitu saja.
“Kalau dulu mah banyak. Sejak ada kampus mah sepi,” ujar seorang penduduk asal Jatinangor. Pria ini menambahkan, tempat yang masih banyak PSK-nya bukan di Jatinangor melainkan di sekitar Cibiru, Cileunyi, dan Tanjung Sari.
Doyat (62), pria yang bekerja di Kantor Kelurahan Jatiroke, Kecamatan Jatinangor, menuturkan antara tahun 1950-an sampai 1970-an memang ada beberapa penduduk perempuan Jatiroke yang menjadi PSK.
“Tapi beroperasinya tidak di Jatiroke melainkan ke luar. Jumlahnya juga cuma sedikit. Hanya beberapa orang saja,” tutur Doyat.
Kupu-kupu malam di desa itu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum nama kampung Ciromed di kecamatan Tanjung Sari dikenal sebagai lokalisasi PSK. Namun, ketika Ciromed mulai ramai dengan warung remang-remangnya, PSK di Jatiroke justru mulai berkurang bahkan menghilang.
“Sejak ada pengarahan dari pemerintah desa, para PSK pun diberi modal kecil-kecilan untuk memulai usaha. Alhamdulillah sekarang sudah berhenti,” lanjut pria yang sudah menjadi aparat desa sejak awal 1980 ini.
Penduduk Asli vs Pendatang
Para PSK yang beroperasi di Jatinangor berasal dari berbagai macam usia. Ada PSK yang berusia 20 tahunan, tapi ada pula yang berumur lebih dari 50 tahun. Mereka ada yang berstatus sebagai penduduk asli Jatinangor dan ada juga yang merupakan pendatang.
Ceu At, salah satu PSK yang tinggal di sebuah gang di belakang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Jatinangor, usianya sudah mencapai 55 tahun. “Profesi” ini dilakoninya sejak usia belia. Kala itu umurnya baru 15 tahun. Artinya, sudah empat dasawarsa ia tenggelam dalam dunia prostitusi.
Sementara itu, pendatang yang menjadi PSK di Jatinangor rata-rata berusia 20 tahunan hingga 40 tahun ke atas. Sebagian berdomisili di Jatinangor, namun ada pula yang tinggal di daerah Cileunyi. Jatinangor hanya sekedar tempat mangkal di malam hari.
Konsumen mereka beragam. Mulai dari “Om-om bermobil” sampai sopir truk yang biasa melintas di malam hari. Kadang, mahasiswa pun ada yang menikmati “jasa” mereka.
“Tapi mahasiswa hanya beberapa. Tahu sendiri kan kantong mahasiswa?” ucap Yl, salah satu PSK di Jatinangor yang masih berusia 21 tahun.
Namun, tidak dipungkiri, ada mahasiswa maupun penduduk Jatinangor yang menjadi pelanggan mereka.
“Ya… ada yang pendatang, ada juga orang Jatinangor, termasuk mahasiswa,” tutur Is, warga Cileunyi yang sering mangkal bersama Yl di dekat sebuah hotel di Jatinangor, ketika dJ menanyakan perihal konsumen mereka.
Lalu, dari mana para “pengguna jasa” itu mengetahui informasi mengenai PSK tersebut? Cara yang paling konvensional adalah dengan berdiri atau mangkal di pinggir jalan. Misalnya, di dekat hotel atau warung rokok. Namun, ada kalanya para PSK itu mengunakan jasa perantara.
“Saya lebih sering menggunakan jasa tukang ojek. Mereka mengantar pelanggan kepada saya, dan saya beri komisi,” tutur Yl lagi.
Baik aparat maupun masyarakat bukannya tutup mata terhadap fenomena ini. Tidak terhitung berapa kali mereka mengingatkan dan menegur kelakuan PSK yang melanggar susila dan agama ini.
Ceu At (55), misalnya. Ia pernah sampai dimarahi oleh Ketua RT setempat. Hal itu terjadi lantaran warga jengah terhadap tingkah Ceu At yang sering nongkrong di pinggir jalan.
Keluarga dan kerabat pun tak henti-hentinya mengingatkan para PSK perihal perbuatan asusila yang biasa mereka lakukan. Kendati kaum kerabatnya berusaha meluruskan jalannya, namun hal itu ternyata tidak banyak mengubah perilaku kupu-kupu malam itu.
Kendati keberadaan PSK di Jatinangor mendapat tanggapan negatif dari masyarakat sekitar, namun sahabat sejati tetap menemani mereka, bahkan di saat-saat tersulit sekali pun.
Adalah Ibu, begitu ia biasa dipanggil, menjadi sahabat Yl sejak pertama kali Yl menginjakkan kaki di Jatinangor. Ia merasa kasihan pada Yl dan selalu mendorong kupu-kupu malam ini untuk berhenti dari kegiatan prostitusi yang biasa dilakukannya.
“Suami gak setuju saya terlalu dekat dan bergaul dengan Yl. Takut terbawa. Tapi saya bilang, orang begitu jangan dikucilkan. Saya selalu mengingatkan Yl untuk berhenti,” papar Ibu yang tinggal tidak jauh dari tempat kos Yl di daerah Cibeusi.
Nasihat maupun teguran terkadang tidak cukup untuk menarik para PSK keluar dari lembah kelam. Salah satu faktor yang dapat memotivasi keinginan untuk berhenti itu adalah the right man in the right time.
“Kalau sudah ada (pria) yang cocok dan baik sama saya, maka saya ingin berhenti,” kata Is, ibu dua anak yang kalau dilihat dari gaya berpakaiannya, tidak menunjukkan bahwa ia seorang PSK.
Hanya Isu
Ketika diminta konfirmasi mengenai keberadaan PSK di Jatinangor, pihak Kecamatan Jatinangor mengaku itu hanya sebatas isu di kalangan masyarakat.
“Saya hanya mendengar selentingan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah desa, dan kalangan pemuda. Katanya (PSK) mangkal di sepanjang jalan Cileunyi sampai Tanjung Sari. Biasanya tengah malam,” ujar H. Agus Munajat, S.E., Kepala Sie Sosial Kecamatan Jatinangor.
Dari penelusuran dJ, PSK yang beroperasi di kawasan pendidikan ini jumlahnya kurang dari lima orang. Tempat yang biasa menjadi tongkrongan adalah Pangkalan Damri (Pangdam), Caringin, dan Cibeusi.
Menurut penuturannya, isu itu sudah didengarnya sejak kurang lebih dua tahun lalu. Isu itu berkembang bersamaan dengan maraknya kabar bahwa di Jatinangor banyak ditemukan sampah kondom di sekitar kos-kosan atau hotel.
Namun, sampai sekarang belum dilakukan langkah konkrit untuk menyikapi hal tersebut. Karenanya, belum dapat dibuktikan keberadaan PSK tersebut.
“Sementara ini saya belum bisa mengiyakan karena belum ada pengecekan langsung di lapangan,” lanjut Agus. Pria kelahiran Bandung 42 tahun lalu ini menyebutkan, alasan belum dilakukannya pengecekan karena belum ada koordinasi dengan pihak terkait, yaitu antara Kepolisian Sektor (Polsek) Jatinangor dan aparat desa. Selain itu, Agus pun belum yakin mengenai tempat beroperasinya PSK di Jatinangor. Lantas kapan koordinasi akan dimulai?
“Rencananya mungkin bulan depan akan ada koordinasi dengan pihak Polsek. Di situ akan direncanakan strategi, cara, dan sistem penanggulangannya,” lanjut Agus.
Jika memang ada PSK di lokasi yang dirazia, baik di rumah kos, hotel, maupun tempat mangkal lainnya, PSK tersebut akan dibawa ke pusat-pusat rehabilitasi atau panti-panti sosial.
Harus Ada Kontrol Ketat
Menurut Budi Rajab, staf pengajar jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad), secara umum kemunculan PSK terkait oleh dua faktor, yaitu segi ekonomi dan adanya peluang.
Kebutuhan atau himpitan ekonomi merupakan faktor utama. Sementara, peluang bisa bermacam-macam. Budi mencontohkan, peluang itu biasanya datang dari pergaulan yang bebas dan tidak terkontrol.
Kurun waktu beroperasinya PSK bergantung pada peluang yang ada. Selama mereka menganggap “pekerjaan” itu masih bisa dilakukan, mereka akan tetap menjadi PSK. Apalagi kalau ternyata pendapatan dengan menjadi PSK lebih besar dibandingkan dengan bekerja sebagai tukang cuci, buruh pabrik, pedagang tingkat menengah, atau pun karyawan kantor.
“Bila peluangnya semakin mengecil, dalam batas tertentu mereka akan berhenti,” ungkap pria kelahiran Tasikmalaya 44 tahun silam ini mantap.
Peluang yang semakin kecil itu dapat terwujud melalui kontrol ketat dari masyarakat. Kontrol itu bisa berwujud teguran sampai pengucilan dari lingkungan sekitar. Namun, sering kali imbauan, teguran, bahkan pengucilan, menjadi tidak mempan.
PSK bisa saja meninggalkan lingkungannya karena merasa terisolasi atau diusir. Namun hal itu tidak menjamin mereka akan berhenti dari pekerjaannya.
“Kalaupun tidak berhenti, mereka bisa keluar,” ucap Budi yang sempat bergabung dalam tim medis yang memeriksa secara rutin PSK di lokalisasi Saritem.
Meski demikian, hal ini bisa menimbulkan masalah baru. Akan ada tempat lain yang potensial sebagai tempat mangkal baru bagi para PSK.
Untuk mengatasinya, Budi menawarkan tiga opsi. Pertama, memberi peluang pekerjaan. Kedua, tingkat upah dari pekerjaan itu cukup sehingga PSK yang terjaring bisa mendapatkan pendapatan yang seimbang dengan saat ia menjadi PSK. Ketiga, kontrol efektif dan ketat dari masyarakat.
Terkait dengan poin ketiga, bila hal tersebut tidak tercipta, maka dikhawatirkan PSK dapat meluas di Jatinangor. Orang yang pertama menjadi PSK baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mengajak orang lain. Namun, yang terpenting adalah kerja sama antara pemerintah dan warga Jatinangor untuk serius memberantas PSK di kawasan pendidikan ini.
“Jika ada perhatian dari pemerintah kepada warga, otomatis warga juga mengerti,” ujar Doyat mengenai pentingnya peranan aparat pemerintah dalam mengatasi masalah PSK.
PSK di Jatinangor memang sudah menjadi sebuah fenomena. Siapa pun tidak bisa menutup mata terhadap realitas ini. bila tidak segera ditanggulangi, bukan tidak mungkin penyakit masyarakat ini akan semakin mengakar di kawasan pendidikan Jatinangor